28 Okt 2011
Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang bisa terjadi pada kita, yang tentu saja hal tersebut telah ada jalannya dan itu sudah menjadi kuasa tuhan. Memang sifat alamiah manusia yang selalu merasa tidak puas, selalu merasa kurang dan mengeluh ini dan itu.
Hal tersebut bukan hanya kamu yang merasakan, saya juga. Segala harapan yang saya inginkan selalu gagal saya dapatkan. Jujur sejak kecil saya selalu menangis ketika papa selalu bilang dengan nada memelas dan menghela nafas panjang “yaaah, kamu mah makan no satu, belajar nomer sepatu”, “nilai kamu paslah, pas makan”.
Apalagi ketika saya membuat jengkel, marah, hingga menangis almarhum mama saat mengajariku pelajaran yang saya pelajari di sekolah, terutama dalam bidang ilmu matematika “kamu ini kenapa bodoh? Liat kakak kamu!, rajin belajar, jangan main terus!” hingga akhirnya mama melepas sendal rumah berbahan karet berwarna biru tua dan mendaratkannya di pipi saya. Dengan segera saya menjerit kesakitan lalu menangis.
Berangkat dari sanalah, saya menjadi pribadi yang sensitif, selalu emosi ketika ada orang yang selalu membanding-bandingkan saya dengan orang lain. Iri memang, ketika teman-teman berhasil mendapatkan nilai bagus apalagi menjadi juara. Melihat ekspresi orangtua mereka dengan senyum semringah memamerkan nilai anaknya tersebut kepada orangtua murid lainnya. saya merasa gagal menjadi anak. Tidak bisa memberikan sesuatu kepuasan kepada orangtua saya yang bisa membuat mereka bangga.
Demikian juga saat saya memasuki SMP dan SMA, harapan saya bisa mendapatkan sekolah negeri dan favorit, kenyataannya yah tentu saja berbeda. Selalu mendapatkan sesuatu yang tidak saya harapkan. Akan tetapi saya tetap harus bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan.
Sekarang saatnya menuntukan pilihan untuk berkuliah, keinginan saya saat itu, ingiiiin sekali di terima dan berkuliah di jurusan sastra Indonesia di universitas Indonesia. Akan tetapi sama halnya dengan yang sudah-sudah, saya gagal dan mengulangnya tahun depan. Setelah saya mencoba di tahun berikutnya, tetap saja gagal dan pilihan saya jatuh pada jurusan yang sama di Universitas Andalas Padang.
Selama 5 tahun saya berusaha menyelesaikan kuliah di jurusan tersebut, dan tentunya banyak hal yang terjadi. Mulai dari ledekan, hingga menjadi bahan tertawaan orang-orang sekitar. Meraka bilang “buat apa lo kuliah di jurusan sastra Indonesia?di daerah lagi!”, “jiaah capek-capek kuliah hasilnya cuman jadi guru”, “mau jadi apa, lulusan sastra?”.
Memangnya ada masalah dengan saya mempelajari sastra INDONESIA? Atas dasar apa kalian bicara seperti itu?. Bukankah semua jurusan sama, mengajarkan kepada kita tentang ilmu?. Lagi pula bahasa bersifat manasuka dan universal, semua orang pasti melakukan aktifitas komunikasi dan tentunya itu menggunakan bahasa. Baik itu bahasa asing ataupun bahasa alay sekalipun!. Jadi kenapa kalian ragu dengan jurusan sastra? Peluang kerja bisa datang dengan sendirinya sesuai skill dan kemampuan individu. Alangkah sempitnya pemikiran kalian tentang sastra dan bahasa dan Kenapa kalian lebih bangga dengan bahasa asing ketimbang dengan bahasa sendiri?, yaitu bahasa Indonesia?.
Tentu saja hal ini menjadi pembelaan diri untuk saya. Pemikiran-pemikiran tersebut hanya berhenti di kepala dan tidak terlontarkan ke publik. Karena apa? Saya ini minder dan merasa malu, membuat saya selalu tersudutkan. Untuk menutupi hal tersebut, saya berusaha tampil berbeda dengan sosok yang ceria di depan teman-teman, tampil menjadi sosok pria yang murah senyum dan gampang di ajak tertawa. Membuat kesan saya ini bukan tipe orang pemikir. Berusaha agar mereka hanya mengenal sosok saya yang ini bukan yang lain. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya sakit hati yang saya alami dengan berbagai macam cibiran yang lebih dari contoh di atas.
Untuk itu saya mencari kegiatan di luar kuliah yang menunjang hal tersebut dengan mendaftarkan diri saya menjadi seorang penyiar di radio swasta di kota Padang. Terbukti, sifat sensitif tersebut mulai berkurang, sifat ceria saya menjadi permanen dan selain itu saya mulai jatuh cinta dengan dunia radio dan tentu saja hal ini tidak terlalu jauh menyimpang dari jurusan saya yang sama-sama menggunakan bahasa dengan outside tutur bahasa yang rapi dan gaya penyampaian ala saya, Aditia.
Saya ingin sekali konsen di bidang tersebut. sisi positifnya, jika saya suka dengan satu hal yang di kerjakan, saya fokus dan giat menekuninya. Mimpi saya adalah bisa memiliki perusahaan broadcaster di bidang radio. Dibawah kepemimpinan saya hingga perusahaan tersebut tumbuh besar dan maju. Memiliki banyak karyawan yang selalu tersenyum bahagia. Selain saya menyalurkan hobi, saya bisa membuka peluang kerja untuk orang lain. Akan tetapi itu baru sekedar mimpi! Bagaimana cara menjalankannya?? Hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar bagi saya.
Situasi lain, berkata beda. Saya lahir dan besar di keluarga pedagang yang sudah berkembang pesat dan maju. Selain itu sudah memiliki nama di sekitaran depok 2. hati saya berkata, untuk apa saya bermimpi terlalu jauh, kenapa tidak saya kelola saja yang telah ada?, apakah saya tidak kasihan melihat kondisi papa yang sudah berumur tersebut hanya bekerja seorang diri? Tanpa ada generasi penerus usaha keluarga tersebut?.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja saya pikirkan dengan sangat matang. Tentu saja saya dengan sangat senang hati meneruskan usaha keluarga ini. Tetapi tidak sekarang. Untuk saat ini saya sedang bermimpi dengan mimpi yang saya inginkan. Sekedar untuk menghilangkan rasa penasaran. Apa itu salah?...
Mimpi pada awalnya saya hanya berfikir hal tersebut tidak mungkin tercapai, karena itu hanya angan-angan saja. Ternyata hal ini merupakan persepsi yang salah, Ada pepatah yang tertuliskan “raihlah mimpimu setinggi bintang diangkasa”. Ditambah yakin lagi ketika saya membaca sebuah buku “Mimpi sejuta dollar”.
Saya dan kakak, sangat antusias datang untuk menyaksikan lounching buku mba Merry Riana atau lebih akrab dipanggil mba Ria. Mencari tahu bagaimana kisah kehidupannya, apa saja kesulitan yang pernah di alaminya dan apa mimpi sejuta dollar yang dia maksud. Bermaksud bertanya saat acara, tapi apa daya, saya selalu terlewatkan oleh bapak MC hingga akhir acara. Sebenarnya saya ingin bertanya satu hal saja kepada mba Ria. Bagaimana caranya anda menghadapi situasi tergencet keadaan, disaat semua orang meremehkan akan apa yang kita miliki dengan keterbatasan sebagai seorang manusia? Muak rasanya mendengarkan ocehan orang sekitar tersebut, dalam kondisi bukan hanya satu atau dua orang saja, tapi lebih dari itu? Apa tindakan mba?. Semoga mba bersedia untuk menjawabnya.
Setelah acara tersebut berakhir, saya berusaha memahami arti dari sebuah mimpi, karena tidak satu orang saja yang berhasil dengan karirnya berawal dari sebuah mimpi. Banyak buku dan artikel orang sukses yang saya baca dan saya tonton di televisi. Berusaha menyerap ilmu dan belajar dari kegigihan kehidupan awal mereka dan menerapkan filosofi dibalik kata-kata yang mereka sampaikan.
Mulai dari Thomas Alva Edison bermimpi bisa berkreasi dengan cahaya, Steve jobs bermimpi bisa merangkul dunia dalam genggaman tangan, Merry Riana bermimpi bisa mendapatkan kebebasan finansial sebelum umur 30 tahun, satu sosok berikutnya adalah sosok yang sangat berarti bagi saya dan keluarga pastinya, yaitu papa saya bermimpi mendapatkan hidup bahagia bersama keluarga tanpa ada kekurangan apapun.
Jadi, tidak ada salahnya untuk saya, kamu, anda, atau siapun di luar sana untuk bermimpi. Karena dengan bermimpi kita bisa menata kehidupan kita di kemudian hari dengan sebuah rencana. Seperti kata pak Rangga Umara (pimpinan pecel lele LeLa) “buat rencana hidupmu sekarang, atau seumur hidup kamu akan dijadikan bagian dari rencana hidup orang lain”.